Kamis, 19 November 2009

Sepintas Sejarah AMA
Beratnya medan pelayanan dan suka duka pengembangan gereja di wilayah Keuskupan Jayapura pada awalnya menuntut pelbagai macam solusi yang tepat. Hal transportasi udara menjadi salah satu pokok yang mau ditangani karena menjadi kunci untuk pelayanan dan pengembangan gereja. Terkait pokok ini, maka informasi dan komunikasi internal gereja semesta menimbulkan semangat dan bentuk nyata solidaritas yang memberikan pengharapan yang besar. Alhasil, pesawat pertama, Cessna 170 dengan registrasi JZ-PTG tiba di Sentani pada 23 Maret 1959. Wilayah pelayanan pada mulanya adalah wilayah Keuskupan Jayapura, yang pada waktu itu menjangkau sampai daerah yang sekarang dikenal sebagai wilayah Keuskupan Timika dan Manokwari-Sorong. Berbarengan dengan adanya pesawat, dimana-mana di pedalaman dibuka lapangan terbang. Bermula dari jenis pesawat Cessna, kemudian berkembang bertambah dengan jenis Pilatus Porter, Grand Caravan dan pada awal tahun 2009 ini, jenis PAC.
Berawal dari sebagai suatu unit karya gereja yang dikelola sendiri oleh Keuskupan Jayapura, yang kemudian mekar menjadi Keuskupan Manokwari Sorong dan Timika, berkembang menjadi satu unit karya gereja se wilayah Papua, yang melibatkan Keuskupan Agung Merauke, yang kemudian dimekarkan menjadi Keuskupan Agats. Terkait dengan perkembangan itu maka pada 1 Oktober 1968 oleh tiga partisipan (Uskup Merauke, Manokwari dan Jayapura) ditandatangani suatu Kesepakatan Partisipasi dan Statuta pertama dari unit karya gereja pelayanan penerbangan AMA ini. Dokumen itu menjadi pedoman kerja dan cikal bakal pengembangan lain selanjutnya.
Visi dan Misi AMA
Melayani umat/masyarakat di Tanah Papua, khususnya di pedalaman dan daerah terisolir dengan meningkatkan taraf sosial ekonomi dengan tidak membedakan suku, ras dan agama.
Membuka cakrawala umat dan masyarakat di Tanah Papua, khususnya di pedalaman dan daerah terisolir dengan memperkenalkan dunia luar kepada mereka dan sebaliknya.
Mengadakan komunikasi dengan para pelayan pastoral, paramedis, pendidikan dan pemerintah guna meningkatkan kinerja pelayanan kepada umat/masyarakat di Tanah Papua.
Menyelenggarakan sarana transportasi udara untuk melayani masyarakat Papua, khususnya yang ada di pedalaman maupun daerah terisolir.